Ahli Sebut Indonesia Harus Upayakan Targeted Immunity untuk Bebas COVID


Ilustrasi, sumber foto: REUTERS/Dado Ruvic/File Photo


Poker Aku - Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo mengatakan, saat ini yang harus diupayakan Indonesia untuk bebas dari COVID-19 bukanlah herd immunity, melainkan targeted immunity.


Targeted immunity, menurut dia, memaksimalkan vaksinasi bukan untuk semua orang Indonesia, tetapi setidaknya beberapa orang dari kelompok rentan, yaitu orang tua dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.


"Tetapi kalau misalnya pemerintah memang mampu (semuanya) itu lebih bagus, tapi kalau kita lihat kenyataan seperti ini kan agak berat ya," ujarnya, Senin (21/6/2021).


Prioritaskan vaksinasi pada lansia dan komunitas komorbid


Ahmad menegaskan, meski Indonesia tidak bisa memvaksinasi 70 persen populasi, harus bisa memvaksinasi beberapa orang yang rentan, yakni lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.


Menurutnya, karena jumlahnya yang kecil dan kedua kelompok tersebut yang paling rentan mengalami gejala berat. Dia menambahkan bahwa akan menjadi masalah jika kedua kelompok datang bersama ke rumah sakit.


“Sebetulnya yang diharapkan bukan herd immunity sebenarnya, tapi targeted immunity,” ujarnya.


Khawatir dengan hoax tentang vaksin di media sosial


Ia mengaku prihatin dengan hoax yang beredar di masyarakat yang 'menghasut' orang lain untuk menolak vaksinasi.


Misalnya kita perlu melindungi orang tua, tapi sayangnya ketika orang tua ingin divaksinasi, ternyata anak orang tua justru melarang karena termakan hoax tentang vaksin. Inilah salah satu keprihatinan yang disampaikan Ahmad.


Vaksin COVID-19 tidak dapat mengikuti standar vaksin penyakit menular sebelumnya


Menurut Ahmad, vaksinasi COVID-19 berbeda dengan vaksin penyakit menular sebelumnya seperti polio. Ada dua alasan, yaitu karena ketersediaan stok dan perbedaan khasiat dengan uji klinis yang berbeda.


Ia mengatakan, ketika sebuah vaksin diuji secara klinis, khasiatnya bisa mencapai 90 persen. Namun, di dunia nyata bisa menurun karena berbicara tentang distribusi dan penerimaan publik.


"Ada banyak faktor (menuju herd immunity), terutama tingkat kepercayaan antara pemerintah dengan sebagian rakyat, ini perlu dibenahi komunikasinya," katanya.


Per 20 Juni 2021, penerima vaksin COVID-19 dosis pertama mencapai 23 juta


Seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (20/6/2021), jumlah orang yang menerima vaksin COVID-19 di Indonesia mencapai 23.043.372 orang. Sedangkan jumlah yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin sebanyak 12.239.706 orang.


Jumlah tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah, yakni 181,5 juta orang Indonesia yang menerima vaksin.


Sementara itu, pada 20 Juni 2021, Indonesia kembali menerima 10 juta bulk vaksin Sinovac. Dengan tambahan tersebut, jumlah vaksin yang telah sampai di Indonesia adalah 94,5 juta dosis vaksin Sinovac, 8,2 juta dosis AstraZeneca, dan 2 juta dosis Sinopharm.


Comments

Popular posts from this blog

Apakah Goku Black Merupakan Versi Terkuat dari Goku?

Kemendagri Minta Seluruh Masyarakat Kibarkan Bendera Satu Tiang Penuh

Pocari Sweat Gelar Ajang Pencarian Bakat Bintang SMA 2021, Hadiahnya Tak Main-main