PBB Peringatkan Ancaman Kematian Ratusan Ribu Orang soal Serangan Junta Militer Myanmar
Poker Aku - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan ancaman kematian bagi ratusan ribu orang, setelah serangan junta militer Myanmar yang membuat mereka meninggalkan rumah dan terpaksa hidup dalam persembunyian.
Ancaman kematian adalah akumulasi dari kelaparan, penyakit, dan serangan membabi buta yang ditargetkan junta terhadap pemberontak etnis, tetapi mempengaruhi warga sipil lainnya.
Dalam sebuah pernyataan yang diposting di Twitter, pelapor khusus PBB untuk Myanmar Tom Andrews mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan sesegera mungkin. Pernyataan itu secara khusus ditujukan kepada kerusuhan di negara bagian Kayah dan Karenni, pusat ketegangan antara pasukan keamanan dan pemberontak etnis.
“Kematian massal yang belum pernah kita lihat sejak kudeta 1 Februari bisa terjadi di negara bagian Kayah jika tidak diambil tindakan. Serangan tanpa pandang bulu junta mengancam nyawa ribuan pria, wanita dan anak-anak," kata Andrews.
Nyawa 100.000 orang terancam
Seruan itu datang beberapa jam setelah kantor PBB di Myanmar melaporkan bahwa kekerasan di Kayah telah membuat sekitar 100.000 orang mengungsi, yang sekarang mencari keselamatan di hutan.
Mereka yang melarikan diri dan mereka yang menjadi korban bom dan tembakan artileri, menurut PBB, sangat membutuhkan makanan, tempat tinggal, air, bahan bakar, dan akses ke perawatan kesehatan.
"Krisis ini dapat mendorong orang melintasi perbatasan internasional mencari keselamatan," Andrews memperingatkan.
Dia juga meminta semua pihak untuk mengambil langkah-langkah dan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil.
Pertempuran junta dengan etnis pemberontak terjadi di Kayah dan Karenni
Orang-orang yang tinggal di Kayah mengatakan kepada Al Jazeera bahwa militer melancarkan serangan udara tanpa pandang bulu. Selain itu, penembakan juga terjadi di wilayah sipil sejak pertempuran meletus pada 21 Mei, antara pasukan keamanan dan kelompok perlawanan Pasukan Pertahanan Rakyat Karenni (KPDF).
Militer telah berulang kali menyerang gereja di daerah mayoritas Kristen. Dalam satu insiden, aksi militer dilaporkan menewaskan empat orang, yang mengungsi bersama 300 penduduk desa lainnya di dalam Gereja Katolik di Loikaw.
Ada juga laporan tentang kematian seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang ditembak mati di Loikaw, dan seorang pemuda yang ditembak di kepala dengan tangan terikat di belakang punggungnya.
Asosiasi pemantau lokal mengatakan sedikitnya 849 warga sipil tewas sejak krisis politik yang dipicu oleh kudeta yang diprakarsai oleh Jenderal Min Aung Hlaing. Kemudian, lebih dari 5.800 orang ditahan dan ditetapkan sebagai tahanan politik.
Peningkatan tekanan internasional harus dilakukan sekarang
Situasi diperparah karena junta juga menutup semua akses bantuan. Blokade militer dan ranjau darat dipasang di jalan umum, untuk memutus distribusi bantuan kemanusiaan.
"Setiap tekanan yang dapat diberikan negara-negara anggota PBB pada junta sekarang harus dilakukan sehingga pemimpin junta akan segera mengizinkan bantuan penyelamatan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan dan berhenti meneror penduduk dengan menghentikan pemboman udara dan penembakan warga sipil," kata Andrews.
Konflik di Kayah berarti bahwa aktivitas pemberontakan telah bergeser ke daerah-daerah di mana banyak pemberontak tinggal, termasuk negara bagian Karen, Chin dan Bago.
"Sekarang lebih dari sebelumnya, komunitas internasional harus memutus akses ke sumber daya yang diandalkan junta untuk melanjutkan serangan brutal ini terhadap rakyat Myanmar," kata Andrews.

Comments
Post a Comment